Tugas 2
ILMU SOSIAL DASAR
DITULIS OLEH :
ACHMAD MAULANA HASAN
PERAN ORANG TUA DALAM MENGEMBANGKAN
KARAKTER ANAK
KATA PENGHANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala limpahan Rahmat,
Inayah, Taufik dan Hinayahnya sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan
makalah ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana. Semoga makalah
ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi
pembaca.
Harapan saya semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi para pembaca, sehingga saya dapat memperbaiki bentuk maupun isi
makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik. Makalah ini saya akui masih
banyak kekurangan karena pengalaman yang saya miliki sangat kurang. Oleh kerena
itu saya harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang
bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.
Depok, 25 Oktober 2014
Achmad Maulana Hasan
Daftar Isi
COVER MAKALAH............................................................................................................ 1
KATA PENGHANTAR ...................................................................................................... 2
DAFTAR ISI......................................................................................................................... 2
BAB I PENDAHULUAN..................................................................................................... 3
1.1. Latar Belakang................................................................................................. 3
1.2. Rumusan Masalah........................................................................................... 3
1.3. Tujuan............................................................................................................................ 3
BAB II ISI MAKALAH....................................................................................................... 4
2.1. Pengertian Peran Orang Tua.......................................................................................... 4
2.2. Pembentukan Karakter Anak......................................................................................... 4
2.3. Peran Orangtua Dalam Perkembangan Moral
Anak.......................................................5
BAB III PENUTUP ............................................................................................................. 7
3.1. Kesimpulan.................................................................................................................... 7
3.2. Saran.............................................................................................................................. 7
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Pendidikan dalam keluarga sangatlah penting dan
merupakan pilar pokok pembangunan karakter seorang anak. Pendidikan dasar wajib
dimiliki tidak hanya oleh masyarakat kota, tetapi juga masyarakat pedesaan.
Seseorang yang memiliki tingkat pendidikan tinggi cenderung lebih dihormati
karena dianggap berada strata sosial yang tinggi. Kualitas seseorang dilihat
dari bagaimana dia dapat menempatkan dirinya dalam berbagai situasi.
Sebagai lembaga sosial terkecil, keluarga merupakan
miniatur masyarakat yang kompleks, karena dimulai dari keluarga seorang anak
mengalami proses sosialisasi. Dalam keluarga, seorang anak belajar
bersosialisasi, memahami, menghayati, dan merasakan segala aspek kehidupan yang
tercermin dalam kebudayaan. Hal tersebut dapat dijadikan sebagai kerangka acuan
di setiap tindakannya dalam menjalani kehidupan.
Seiring dengan perkembangan zaman, pendidikan moral
dalam keluarga mulai luntur. Arus globalisasi menyerang di segala aspek
kehidupan bermasyarakat, tidak hanya masyarakat kota tetapi juga masyarakat
pedesaan. Dengan demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa peran kelurga sangat
besar sebagai penentu terbentuknya moral manusia-manusia yang dilahirkan.
1.2.
Rumusan Masalah
1.
Bagaimana
cara orang tua untuk mengembangkan karakter anak ?
2.
Apa masalah
yang dihadapi orang tua terhadap pendidikan moral anak yang semakin luntur
?
1.3.
Tujuan
1. Dapat mengetahui peran orangtua
untuk mengembangkan karakter anak.
2. Dapat menjawab semua masalah
pendidikan moral anak.
BAB II
ISI MAKALAH
2.1.
Pengertian Peran Orangtua
Orang tua
atau ibu dan ayah memegang peranan yang sangat penting dan amat berpengaruh
atas pendidikan anak-anaknya. Sejak seorang anak lahir ibunyalah yang selalu
ada di sampingnya oleh karena itu ia meniru peranggai ibunya dan ayahmya,
seorang anak lebih cinta kepada ibunya, apabilah ibu itu menjalankan tugasnya
dengan baik. Ibu merupakan orang yang mula-mula dikenal anak, yang mula-mula
dipercayainya, apapun yang dilakukan ibu dapat dimaafkan, kecuali apabila ia di
tinggalkan dengan memahami segalah sesuatu yang terkadang dalam hati anaknya,
juga jika anak telah mulai besar, disertai kasih sayang, dapat ibu megambil
hati anak untuk selama-lamanya.
Pengaruh
ayah terhadap anaknya besar pulah dimata anaknya. Ia seorang yang tertinggi
gengsinya dan yang terpandang diantara orang-orang yang dikenalnya. Cara
ayah itu melakukan pekerjaan sehari hari berpengaruh terhadap pekerjaan
anaknya. Ayah merupakan penolong utama, lebih-lebih bagi anak yang besar baik
laki-laki maupun perempuan bila ia mau mendekati dan dapat memahami hati
anaknya.
Pada
dasarnya kenyataannya yang dikemukakan diatas itu berlaku dalam kehidupan
keluarga dan rumah tangga, dengan yang bagaimanapun juga keadaannya. Hal ini
menunjukkan cirri-ciri watak rasa tanggung jawab setiap orang tua atas
kehidupan anak-anaknya mereka untuk masa kini dan masa mendatang. Bahkan para
orang tua umumnya merasa tanggung jawab atas segalahnya dari kelangsungan hidup
anak-anaknya, karenanya tidaklah diragukan bahwa tanggung jawab pendidikan itu
diakui secara sadr atau tidak, diterima dengan sepenuhnya hatinya, hal itu
adalah merupakan “fitroh” yang telah dikodrati Allah swt kepada setiap orang
tua. Mereka tidak bisa menggelakkan tanggung jawab itu karena telah
merupakan amanah Allah swt yang dibebankan kepada mereka.
2.2.
Pembentukan Karakter Anak
Pendidikan karakter
secara sederhana dapat diartikan tabi’at ,peragai,watak dan keperibadian
seseorang dengan cara menanamkan nilai-nilai luhur,sehingga nilai-niai tersebut
mendarah daging,menyatu dalam hati,pekiran ucapan dan perbuatan dan menampakkan
pengaruhnya dalam realitas kehidupan secara mudah,atas kemauan
sendiri,orisional dank arena ikhlas semata karena Allah Swt.Penanaman dan
pembentukan keperibadian tersebut dilakukan bukan hanya dengan memberikan
pengertian dan menmgubah pola piker dan pola pandang seseorang terhadap sesuatu
yang baik dan benar,melainkan nilai-nilai baik tersebut di biasakan ,di
latihkan di contohkan,di lakukan secara terus meneru dan di prektek
kan dalam kehidupan sehari-hari. Agar pembentukan karakter tersebut
bisa tercapai, maka diperlukan pula dukungan dari pendidikan moral, agama,
nilai, dan kewarganegaraan. Selain itu harus menerapkan institunal values
seperti kejujuran, kemandirian, keadilan, kerja keras, dll. Selanjutnya
pendidikan karakter menurut Al-Qur’an di tujukan untuk mengeluarkan dan
membebaskan manusia dari kehidupan yang gelap kepada kehidupan yang
terang(Q.S Al Ahzab,33:43)mengubah manusia yang biadab(jahiliyah) menjadi
manusia yang beradab.(Q.S Al-Baqarah,2:67)
Dengan
demikian karakter menurut Al-Quran lebih ditekankan pada membiasakan agar
oang mempraktekkan dan mengamalkan nilai –nilai yang baik dan menjauhi
nilai-nilai yang buruk dan ditujukan agar manusia mengetahui cara hidup,atau
bagaimana caranya hidup.Al-Quran bakan meminta manusia untuk menjadi
amanu,tetapi mu’minun bukan ittigo,tetapi muttagin,bukan aslama tetepi muslimun
bukan akhlasha tetapi mukhlisin,yang hal itu menggambarkan bahwa berbagai
predikat tersebut telah mendarah daging dan menjadi karakternya.
2.3.
Peran Orangtua Terhadap Perkembangan
Moral Anak
Papalia dan
Old (1987) dalam Hawadi (2001) membagi masa kanak-kanak dalam lima
tahap :
- Masa Prenatal, yaitu diawali dari masa konsepsi sampai masa lahir.
- Masa Bayi dan Tatih, yaitu saat usia 18 bulan
pertama kehidupan merupakan masa bayi, di atas usia 18 bulan pertama
kehidupan merupakan masa bayi, di atas usia 18 bulan sampai tiga tahun
merupakan masa tatih. Saat tatih inilah, anak-anak menuju pada penguasaan
bahasa dan motorik serta kemandirian.
- Masa kanak-kanak pertama, yaitu rentang usia 3-6
tahun, masa ini dikenal juga dengan masa prasekolah.
- Masa kanak-kanak kedua, yaitu usia 6-12 tahun,
dikenal pula sebagai masa sekolah. Anak-anak telah mampu menerima
pendidikan formal dan menyerap berbagai hal yang ada di lingkungannya.
- Masa remaja, yaitu rentang usia 12-18 tahun. Saat
anak mencari identitas dirinya dan banyak menghabiskan waktunya dengan
teman sebayanya serta berupaya lepas dari kungkungan orang tua.
Anak-anak
mulai berpikir kritis dimulai ketika mereka menuju pada panguasaan bahasa dan
motorik serta kemandirian, yaitu pada masa tatih (diatas 18 bulan). Pada masa
ini anak-anak mulai mengenal bahasa dan tertarik untuk mempelajarinya. Berbagai
pertanyaan kritis mulai terlontar. Seiring
dengan pertanyaan yang keluar dari bibir mungil seorang anak, disinilah peran
orang tua bermain. Orang tua dapat menjawab segala pertanyaan anak dengan
jawaban yang sebenarnya atau jawaban fiksi yang merupakan karangan orang tua.
Orang tua dituntut untuk dapat memberi jawaban yang dapat memuaskan hati
seorang anak, sekalipun jawaban itu dirasanya sangat sulit dipahami oleh anak
karena pertanyaannya yang bersifat sensitif. Berawal dari pertanyaan-pertanyaan
dari seorang anak, pendidikan mengenani moral dan budi pekerti dapat
ditanamkan.
Penanaman
moral pada diri seorang anak berawal dari lingkungan keluarga. Pengaruh
keluarga dalam penempaan karakter anak sangalah besar. Dalam sebuah keluarga,
seorang anak diasuh, diajarkan bebagai macam hal, diberi pendidikan mengenai
budi pekerti serta budaya. Setiap orang tua yang memiliki anak tentunya ingin
anaknya tumbuh dan berkembang menjadi manusia cerdas yang memiliki budi pekerti
baik agar dapat menjaga nama baik keluarga. Orang tua selalu mengajarkan hal
hal baik kepada anaknya. Salah satu contohnya adalah sikap sopan dan hormat
kepada orang tua. Prilaku baik tidak datang dengan sendirinya, melainkan harus
diciptakan dan diajarkan. Seiring dengan perkembangan zaman, terjadi pergeseran
nilai-nilai kebudayaan pada masyarakat. Siaran-siaran televisi kembali menjadi
salah satu faktor penyebab lunturnya nilai-nilai tersebut. Hadirnya televisi
telah merebut perhatian anak terhadap orang tua. Anak seringkali mengabaikan
nasihat yang diberikan oleh orang tua dengan alasan nasihat tersebut terkesan
kuno. Dalam kondisi demikian, seorang anak tidak mengetahui yang sebenarnya
mengenai nilai-nilai yang seharusnya diberikan orang tua kepada anaknya. Saat
ini, intensitas bertemu antara anak dengan orangtua sudah sangat sempit. Oleh
karena itu, orang tua harus mampu membagi waktu dengan baik.
Jadi,
kejujuran merupakan hal yang paling penting bagi setiap manusia dalam menjalani
hidup. Penanaman sikap jujur dalam keluarga dapat dimulai dari prilaku orang
tua yang selalu bersikap dan berkata jujur. Dengan begitu, maka akan lebih
mudah bagi seorang anak menanamkan sikap jujur pada dirinya karena tidak pernah
merasa dibohongi.
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Keluarga
merupakan suatu sistem sosial terkecil yang di dalamnya dapat terdiri dari
Ayah, Ibu, dan anak yang masing-masing memiliki peran. Anak merupakan buah dari
keluarga bahagia. Anak-anak memiliki pemikiran kritis akan banyak hal dimulai
ketika ia mulai mengenal bahasa. Pertanyaan-pertanyaan yang terlontar dari
mulut seorang anak sebaiknya dijawab dengan jawaban yang jujur dan dapat
memuaskan hati anak. Pendidikan moral dan kejujuran bagi seorang anak berawal
dari kelurga, melalui orang tua. Hal ini yang dapat membentuk karakter anak di
masa depan.
3.2.
Saran
Orang tua
merupakan panutan bagi anak-anaknya, untuk itu sebaiknya orang tua dapat
menjadi contoh yang baik bagi anak-anaknya. Orang tua juga harus membuka diri
terhadap perkembangan zaman dan teknologi saat ini. Anak-anak memiliki
pemikiran yang kritis terhadap sesuatu yang baru. Bila orang tua tidak membuka
diri terhadap perkmbangan yang ada, kelak akan menuai kesulitan dalam menjawab
pertanyaan dari anak. Pada akhirnya berbuah kebohongan dan secara tidak
langsung menanamkannya pada anak.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar