Minggu, 05 April 2015

Nilai IBD dari Novel Sang Pemimpi

Sinopsis Novel Sang Pemimpi

Novel ini adalah novel kedua dari tetralogi Laskar pelangi karya Andrea Hirata. Sang Pemimpi adalah sebuah kisah kehidupan yang mempesona yang akan membuat pembacanya percaya akan tenaga cinta, percaya pada kekuatan mimpi dan pengorbanan, selin itu juga memperkuat kepercayaan kepada Tuhan.
Tiga orang pemimpi. Setelah tamat SMP, melanjutkan ke SMA Bukan Main, di sinilah perjuangan dan mimpi ketiga pemberani ini dimulai. Ikal salah satu dari anggota Laskar Pelangi dan Arai yang merupakan saudara sepupu Ikal yang sudah yatim piatu sejak SD dan tinggal di rumah Ikal, sudah dianggap seperti anak sendiri oleh Ayah dan Ibu Ikal, dan Jimbron, anak angkat seorang pendeta karena yatim piatu juga sejak kecil. Namun, pendeta yang sangat baik dan tidak memaksakan keyakinan Jimbron, malah mengantarkan Jimbron menjadi muslim yang taat.
Arai dan Ikal begitu pintar di sekolahnya, sedangkan Jimbron, si penggemar kuda ini biasa-biasa saja. Malah menduduki rangking 78 dari 160 siswa. Sedangkan Ikal dan Arai selalu menjadi lima dan tiga besar. Mimpi mereka sangat tinggi, karena bagi Arai, orang susah seperti mereka tidak akan berguna tanpa mimpi-mimpi. Mereka berdua mempunyai mimpi yang tinggi yaitu melanjutkan belajar ke Sorbonne Perancis. Mereka terpukau dengan cerita Pak Balia, kepala sekolahnya, yang selalu meyebut-nyebut indahnya kota itu. Kerja keras menjadi kuli ngambat mulai pukul dua pagi sampai jam tujuh dan dilanjutkan dengan sekolah, itulah perjuangan ketiga pemuda itu. Mati-matian menabung demi mewujudkan impiannya. Meskipun kalau dilogika, tabungan mereka tidak akan cukup untuk sampai ke sana. Tapi jiwa optimisme Arai tak terbantahkan.
Selesai SMA, Arai dan Ikal merantau ke Jawa, Bogor tepatnya. Sedangkan Jimbron lebih memilih untuk menjadi pekerja ternak kuda di Belitong. Jimbron menghadiahkan kedua celengan kudanya yang berisi tabungannya selama ini kepada Ikal dan Arai. Dia yakin kalau Arai dan Ikal sampai di Perancis, maka jiwa Jimbron pun akan selalu bersama mereka. Berbula-bulan terkatung-katung di Bogor, mencari pekerjaan untuk bertahan hidup susahnya minta ampun. Akhirnya setelah banyak pekerjaan tidak bersahabat ditempuh, Ikal diterima menjadi tukang sortir (tukang Pos), dan Arai memutuskan untuk merantau ke Kalimantan. Tahun berikutnya, Ikal memutuskan untuk kuliah di Ekonomi UI. Dan setelah lulus, ada lowongan untuk mendapatkan biasiswa S2 ke Eropa. Beribu-ribu pesaing berhasil ia singkirkan dan akhrinya sampailah pada pertandingan untuk memperebutkan 15 besar.
Saat wawancara tiba, tidak disangka, profesor pengujinya begitu terpukau dengan proposal riset yang diajukan Ikal, meskipun hanya berlatar belakang sarjana Ekonomi yang masih bekerja sebagai tukang sortir, tulisannya begitu hebat. Akhirnya setelah wawancara selesai, siapa yang menyangka, kejutan yang luar biasa. Arai pun ikut dalam wawancara itu. Bertahun-tahun tanpa kabar berita, akhirnya mereka berdua dipertemukan dalam suatu forum yang begitu indah dan terhormat. Begitulah Arai, selalu penuh dengan kejutan. Semua ini sudah direncanaknnya bertahun-tahun. Ternyata dia kuliah di Universitas Mulawarman dan mengambil jurusan Biologi. Tidak kalah dengan Ikal, proposal risetnya juga begitu luar biasa dan berbakat untuk menghasilkan teori baru.
Akhirnya sampai juga mereka pulang kampung ke Belitong. Ketika ada surat datang, mereka berdebar-debar membuka isinya. Pengumuman penerima Beasiswa ke Eropa. Arai begitu sedih karena dia sangat merindukan kedua orang tuanya. Arai sangat ingin membuka kabar itu bersama orang yang sangat dia rindukan. Kegelisahan dimulai. Baik Arai maupun Ikal, keduanya tidak kuasa mengetahui isi dari surat itu. Setelah dibuka, hasilnya adalah Ikal diterima di Perguruan tinggi Sorbone, Prancis. Setelah perlahan mencocokkan dengan surat Arai, inilah jawaban dari mimpi-mimpi mereka. Kedua sang pemimpi ini diterima di Universitas yang sama. Tapi ini bukan akhir dari segalanya. Di sinilah perjuangan dari mimpi itu dimulai, dan siap melahirkan anak-anak mimpi berikutnya.

Nilai-nilai IBD yang Dihubungkan Dengan Prosa dari Novel “Sang Pemimpi”
            IBD yang Dihubungkan Dengan Prosa memiliki beberapa nilai nilai yang diperoleh pembaca yaitu memberikan kesenangan, informasi, warisan budaya dan keseimbangan wawasan. Dari novel “Sang Pemimpi” pembaca mendapatkan banyak pelajaran pelajaran dan nilai nilai yang sangat berharga dan patut dicontoh dari novel ini, yaitu tidak pernah putus asa dalam segala hal dan mau bermimpi yang tinggi.
1.    Nilai Kesenangan
Orang orang dengan hobi membaca pasti sangat senang dengan novel sang pemimpi. Selain itu kita dapat memetik nilai nilai positif dari novel ini. Novel sang pemimpi mengandung nilai moral yang tinggi. Kita harus hormat terhadap orang tua, kerja kera pantang menyerah menjalani hidup, dan juga persahabatan kebersamaan mewujudkan mimpi. Dari nilai moral tersebut, kita dapat belajar dan mencontoh semangat ketiga tokoh dalam mengerjar mimpi mereka. Si penulis novel pasti punya cara untuk menarik minat orang orang yang suka dengan novel. Salah satu caranya adalah di dalam cerita novel pasti ada yang namanya lelucon, gunyolan dan lawakan  yang sangat lucu. Cara tersebut sangat bagus untuk membuat pembaca sampai tertawa. Cara ini juga masuk kedalam nilai Kesenangan. Dibuktikan dengan kutipan berikut :
“Di dekat para siswi tadi, aku berpura pura menunduk untuk membetulkan tali sepatu yang sebenarnya tidak apa apa, sehingga ketika bangkit aku mendapatkan kesempatan menyibakan jambulku seperti gaya pembantu membilas cucian. Ah elegan sekali. Sangat melayu!”
2.    Nilai Informasi
Di novel ini ada sebuah informasi tentang  agama yang mengajarkan bahwa kita harus saling peduli terhadap sesama walaupun berbeda agama. Di dalam cerita dijelaskan ada anak yang namanya Jimbron, anak angkat seorang pendeta khatolik dari Italy yang bernama Geovanny. Pendeta ini sangat baik dan tidak memaksakan keyakinan jimbron untuk menjadi umat khatolik, malah mengantarkan jimbron menjadi muslim yang taat. Dibuktikan dalam kutipan berikut :
“Jimbron adalah seorang yang membuat kami takjub dengan tiga macam keheranan. Pertama, kami heran kalau mengaji, ia selalu diantar oleh seorang pendeta. Sebetulnya beliau adalah seorang pastor karena beliau seorang khatolik, tetapi kami memanggilnya pendeta Geovanny. Rupanya setelah sebatang kara seperti Arai ia menjadi anak asuh sang pendeta. Namun, pendeta berdarah italy itu tidak sedikit pun bermaksud mengonversi keyakinan jimbron. Beliau malah tidak pernah telat jika mengantarkan jimbron mengaji ke masjid”.
3.    Nilai Warisan Budaya
Di dalam novel sang pemimpi, nilai warisan budayanya adalah budaya kerja keras dan pantang menyerah dalam menjalani hidup. Warisan budaya ini sangat cocok untuk dicontoh bagi para generasi muda untuk menggapai cita citanya. Terbukti, dari novel ini adalah Kerja keras menjadi kuli ngambat mulai pukul dua pagi sampai jam tujuh dan dilanjutkan dengan sekolah, itulah perjuangan ketiga pemuda itu. Mati-matian menabung demi mewujudkan impiannya. Meskipun kalau dilogika, tabungan mereka tidak akan cukup untuk sampai ke sana. Tapi jiwa optimisme Arai tak terbantahkan. Dan sampai akirnya mereka bisa mewujudkan mimpinya.
4.    Nilai Keseimbangan Wawasan
Nilai Keseimbangan wawasan dalam novel ini adalah Seimbangnya alur cerita yang menceritakan tentang semangat hidup dari para tokoh untuk mengejar mimpi mereka dan keyakinan yang kuat kepada tuhan. Ini terlihat dari semangat pantang menyerah dan ketekunan para tokoh menunaikan ibadah mereka.

      

Tidak ada komentar:

Posting Komentar