Minggu, 02 November 2014

Tugas 2


ILMU SOSIAL DASAR





DITULIS OLEH :
ACHMAD MAULANA HASAN



PERAN ORANG TUA DALAM MENGEMBANGKAN KARAKTER ANAK


KATA PENGHANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala limpahan Rahmat, Inayah, Taufik dan Hinayahnya sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana. Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca.
Harapan saya semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, sehingga saya dapat memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik. Makalah ini saya akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang saya miliki sangat kurang. Oleh kerena itu saya harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.

Depok, 25 Oktober 2014


Achmad Maulana Hasan



Daftar Isi
COVER MAKALAH............................................................................................................ 1
KATA PENGHANTAR ...................................................................................................... 2
DAFTAR ISI......................................................................................................................... 2
BAB I PENDAHULUAN..................................................................................................... 3        
1.1. Latar Belakang................................................................................................. 3
1.2. Rumusan Masalah........................................................................................... 3
1.3. Tujuan............................................................................................................................ 3 
BAB II ISI MAKALAH....................................................................................................... 4 
2.1. Pengertian Peran Orang Tua.......................................................................................... 4
2.2. Pembentukan Karakter Anak......................................................................................... 4
2.3. Peran Orangtua Dalam Perkembangan Moral Anak.......................................................5
BAB III PENUTUP ............................................................................................................. 7
3.1. Kesimpulan.................................................................................................................... 7
3.2. Saran.............................................................................................................................. 7


BAB I
PENDAHULUAN
        1.1.        Latar Belakang
Pendidikan dalam keluarga sangatlah penting dan merupakan pilar pokok pembangunan karakter seorang anak. Pendidikan dasar wajib dimiliki tidak hanya oleh masyarakat kota, tetapi juga masyarakat pedesaan. Seseorang yang memiliki tingkat pendidikan tinggi cenderung lebih dihormati karena dianggap berada strata sosial yang tinggi. Kualitas seseorang dilihat dari bagaimana dia dapat menempatkan dirinya dalam berbagai situasi.
Sebagai lembaga sosial terkecil, keluarga merupakan miniatur masyarakat yang kompleks, karena dimulai dari keluarga seorang anak mengalami proses  sosialisasi. Dalam keluarga, seorang anak belajar bersosialisasi, memahami, menghayati, dan merasakan segala aspek kehidupan yang tercermin dalam kebudayaan. Hal tersebut dapat dijadikan sebagai kerangka acuan di setiap tindakannya dalam menjalani kehidupan.
Seiring dengan perkembangan zaman, pendidikan moral dalam keluarga mulai luntur. Arus globalisasi menyerang di segala aspek kehidupan bermasyarakat, tidak hanya masyarakat kota tetapi juga masyarakat pedesaan. Dengan demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa peran kelurga sangat besar sebagai penentu terbentuknya moral manusia-manusia yang dilahirkan.
          1.2.        Rumusan Masalah
       1.    Bagaimana cara orang tua untuk mengembangkan karakter anak ?
       2.    Apa masalah yang dihadapi orang tua terhadap pendidikan moral anak yang semakin luntur ?  

         1.3.        Tujuan
       1.    Dapat mengetahui peran orangtua untuk mengembangkan karakter anak.
       2.    Dapat menjawab semua masalah pendidikan moral anak.


BAB II
ISI MAKALAH
2.1.       Pengertian Peran Orangtua
Orang tua atau ibu dan ayah memegang peranan yang sangat penting dan amat berpengaruh atas pendidikan anak-anaknya. Sejak seorang anak lahir ibunyalah yang selalu ada di sampingnya oleh karena itu ia meniru peranggai ibunya dan ayahmya, seorang anak lebih cinta kepada ibunya, apabilah ibu itu menjalankan tugasnya dengan baik. Ibu merupakan orang yang mula-mula dikenal anak, yang mula-mula dipercayainya, apapun yang dilakukan ibu dapat dimaafkan, kecuali apabila ia di tinggalkan dengan memahami segalah sesuatu yang terkadang dalam hati anaknya, juga jika anak telah mulai besar, disertai kasih sayang, dapat ibu megambil hati anak untuk selama-lamanya.
Pengaruh ayah terhadap anaknya besar pulah dimata anaknya. Ia seorang yang tertinggi gengsinya dan yang terpandang diantara orang-orang yang dikenalnya.  Cara ayah itu melakukan pekerjaan sehari hari berpengaruh terhadap pekerjaan anaknya. Ayah merupakan penolong utama, lebih-lebih bagi anak yang besar baik laki-laki maupun perempuan bila ia mau mendekati dan dapat memahami hati anaknya.
Pada dasarnya kenyataannya yang dikemukakan diatas itu berlaku dalam kehidupan keluarga dan rumah tangga, dengan yang bagaimanapun juga keadaannya. Hal ini menunjukkan cirri-ciri watak rasa tanggung jawab setiap orang tua atas kehidupan anak-anaknya mereka untuk masa kini dan masa mendatang. Bahkan para orang tua umumnya merasa tanggung jawab atas segalahnya dari kelangsungan hidup anak-anaknya, karenanya tidaklah diragukan bahwa tanggung jawab pendidikan itu diakui secara sadr atau tidak, diterima dengan sepenuhnya hatinya, hal itu adalah merupakan “fitroh” yang telah dikodrati Allah swt kepada setiap orang tua. Mereka tidak bisa menggelakkan tanggung jawab itu karena telah  merupakan amanah Allah swt yang dibebankan kepada mereka.
2.2.       Pembentukan Karakter Anak
Pendidikan karakter secara sederhana dapat diartikan tabi’at ,peragai,watak dan keperibadian seseorang dengan cara menanamkan nilai-nilai luhur,sehingga nilai-niai tersebut mendarah daging,menyatu dalam hati,pekiran ucapan dan perbuatan dan menampakkan pengaruhnya dalam realitas kehidupan secara mudah,atas kemauan sendiri,orisional dank arena ikhlas semata karena Allah Swt.Penanaman dan pembentukan keperibadian tersebut dilakukan bukan hanya dengan memberikan pengertian dan menmgubah pola piker dan pola pandang seseorang terhadap sesuatu yang baik dan benar,melainkan nilai-nilai baik tersebut di biasakan ,di latihkan  di contohkan,di lakukan secara terus meneru dan di prektek kan  dalam kehidupan sehari-hari. Agar pembentukan karakter tersebut bisa tercapai, maka diperlukan pula dukungan dari pendidikan moral, agama, nilai, dan kewarganegaraan. Selain itu harus menerapkan institunal values seperti kejujuran, kemandirian, keadilan, kerja keras, dll. Selanjutnya pendidikan karakter menurut Al-Qur’an di tujukan untuk mengeluarkan dan membebaskan manusia dari kehidupan yang gelap kepada kehidupan yang terang(Q.S  Al Ahzab,33:43)mengubah manusia yang biadab(jahiliyah) menjadi manusia yang beradab.(Q.S Al-Baqarah,2:67)
Dengan demikian karakter menurut Al-Quran lebih ditekankan  pada membiasakan agar oang mempraktekkan dan mengamalkan nilai –nilai yang baik dan menjauhi nilai-nilai yang buruk dan ditujukan agar manusia mengetahui cara hidup,atau bagaimana caranya hidup.Al-Quran bakan meminta manusia untuk menjadi amanu,tetapi mu’minun bukan ittigo,tetapi muttagin,bukan aslama tetepi muslimun bukan akhlasha tetapi mukhlisin,yang hal itu menggambarkan bahwa berbagai predikat tersebut telah mendarah daging dan menjadi karakternya.
2.3.       Peran Orangtua Terhadap Perkembangan Moral Anak
Papalia dan Old (1987) dalam Hawadi (2001) membagi masa kanak-kanak dalam lima tahap :
  • Masa Prenatal, yaitu diawali dari masa konsepsi sampai masa lahir.
  • Masa Bayi dan Tatih, yaitu saat usia 18 bulan pertama kehidupan merupakan masa bayi, di atas usia 18 bulan pertama kehidupan merupakan masa bayi, di atas usia 18 bulan sampai tiga tahun merupakan masa tatih. Saat tatih inilah, anak-anak menuju pada penguasaan bahasa dan motorik serta kemandirian.
  • Masa kanak-kanak pertama, yaitu rentang usia 3-6 tahun, masa ini dikenal juga dengan masa prasekolah.
  • Masa kanak-kanak kedua, yaitu usia 6-12 tahun, dikenal pula sebagai masa sekolah. Anak-anak telah mampu menerima pendidikan formal dan menyerap berbagai hal yang ada di lingkungannya.
  • Masa remaja, yaitu rentang usia 12-18 tahun. Saat anak mencari identitas dirinya dan banyak menghabiskan waktunya dengan teman sebayanya serta berupaya lepas dari kungkungan orang tua.
Anak-anak mulai berpikir kritis dimulai ketika mereka menuju pada panguasaan bahasa dan motorik serta kemandirian, yaitu pada masa tatih (diatas 18 bulan). Pada masa ini anak-anak mulai mengenal bahasa dan tertarik untuk mempelajarinya. Berbagai pertanyaan kritis mulai terlontar. Seiring dengan pertanyaan yang keluar dari bibir mungil seorang anak, disinilah peran orang tua bermain. Orang tua dapat menjawab segala pertanyaan anak dengan jawaban yang sebenarnya atau jawaban fiksi yang merupakan karangan orang tua. Orang tua dituntut untuk dapat memberi jawaban yang dapat memuaskan hati seorang anak, sekalipun jawaban itu dirasanya sangat sulit dipahami oleh anak karena pertanyaannya yang bersifat sensitif. Berawal dari pertanyaan-pertanyaan dari seorang anak, pendidikan mengenani moral dan budi pekerti dapat ditanamkan.
Penanaman moral pada diri seorang anak berawal dari lingkungan keluarga. Pengaruh keluarga dalam penempaan karakter anak sangalah besar. Dalam sebuah keluarga, seorang anak diasuh, diajarkan bebagai macam hal, diberi pendidikan mengenai budi pekerti serta budaya. Setiap orang tua yang memiliki anak tentunya ingin anaknya tumbuh dan berkembang menjadi manusia cerdas yang memiliki budi pekerti baik agar dapat menjaga nama baik keluarga. Orang tua selalu mengajarkan hal hal baik kepada anaknya. Salah satu contohnya adalah sikap sopan dan hormat kepada orang tua. Prilaku baik tidak datang dengan sendirinya, melainkan harus diciptakan dan diajarkan. Seiring dengan perkembangan zaman, terjadi pergeseran nilai-nilai kebudayaan pada masyarakat. Siaran-siaran televisi kembali menjadi salah satu faktor penyebab lunturnya nilai-nilai tersebut. Hadirnya televisi telah merebut perhatian anak terhadap orang tua. Anak seringkali mengabaikan nasihat yang diberikan oleh orang tua dengan alasan nasihat tersebut terkesan kuno. Dalam kondisi demikian, seorang anak tidak mengetahui yang sebenarnya mengenai nilai-nilai yang seharusnya diberikan orang tua kepada anaknya. Saat ini, intensitas bertemu antara anak dengan orangtua sudah sangat sempit. Oleh karena itu, orang tua harus mampu membagi waktu dengan baik.
      Jadi, kejujuran merupakan hal yang paling penting bagi setiap manusia dalam menjalani hidup. Penanaman sikap jujur dalam keluarga dapat dimulai dari prilaku orang tua yang selalu bersikap dan berkata jujur. Dengan begitu, maka akan lebih mudah bagi seorang anak menanamkan sikap jujur pada dirinya karena tidak pernah merasa dibohongi. 


BAB III
PENUTUP
3.1.     Kesimpulan
Keluarga merupakan suatu sistem sosial terkecil yang di dalamnya dapat terdiri dari Ayah, Ibu, dan anak yang masing-masing memiliki peran. Anak merupakan buah dari keluarga bahagia. Anak-anak memiliki pemikiran kritis akan banyak hal dimulai ketika ia mulai mengenal bahasa. Pertanyaan-pertanyaan yang terlontar dari mulut seorang anak sebaiknya dijawab dengan jawaban yang jujur dan dapat memuaskan hati anak. Pendidikan moral dan kejujuran bagi seorang anak berawal dari kelurga, melalui orang tua. Hal ini yang dapat membentuk karakter anak di masa depan.
3.2.     Saran
Orang tua merupakan panutan bagi anak-anaknya, untuk itu sebaiknya orang tua dapat menjadi contoh yang baik bagi anak-anaknya. Orang tua juga harus membuka diri terhadap perkembangan zaman dan teknologi saat ini. Anak-anak memiliki pemikiran yang kritis terhadap sesuatu yang baru. Bila orang tua tidak membuka diri terhadap perkmbangan yang ada, kelak akan menuai kesulitan dalam menjawab pertanyaan dari anak. Pada akhirnya berbuah kebohongan dan secara tidak langsung menanamkannya pada anak.




                                                                             





Categories:

0 komentar:

Posting Komentar